Yogyakarta, CNN Indonesia --
Massa aksi mahasiswa UGM membeberkan pemantik yang membuat mereka menggeruduk panggung acara diskusi kopdar di Joglo GIK UGM, Sleman, Yogyakarta, Senin (15/6) malam.
Acara diskusi Kopdar Bareng Mas Dar ini diisi oleh Menteri ATR/BPN, Nusron Wahid; Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono; dan Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan, Budiman Sudjatmiko. Forum malam itu bertemakan 'Pancasila Pemersatu Bangsa Indonesia'.
Serikat Mahasiswa (SEMA) UGM melalui akun Instagram resminya membagikan keterangan resmi terkait aksi gerakan kolektif mahasiswa tersebut. Pada halaman terakhir, dijelaskan pemicu aksi naik ke podium adalah ucapan para pembicara perihal kritik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami terpantik ketika mereka bertiga di podium menantang publik untuk 'mengkritik secara langsung, bukan di sosial media'," tulis keterangan tersebut, dikutip Selasa (16/6) siang.
SEMA UGM mengingatkan bahwa publik sudah resah terkait kondisi saat ini.
"Jika pemerintah terus merampas keadilan dan membiarkan perut rakyat kelaparan, jangan salahkan publik jika kesabaran ini habis," demikian keterangan SEMA UGM.
Dijelaskan melalui keterangan itu, para pejabat yang hadir di GIK tak semestinya bicara mengenai nilai Pancasila saat masyarakat sudah terlalu sesak dengan cara negara menangani berbagai masalah.
Pemerintah juga dianggap menutup telinga dari beragam tuntutan masyarakat yang sudah sampai turun ke jalan. Mahasiswa menilai para pejabat tersebut tak selayaknya bicara tentang Pancasila saat suara rakyat dibungkam, dikriminalisasi dan dianggap gangguan.
Nilai keadilan, kemanusiaan dan kesejahteraan juga tak selaras dengan pemerintah yang dianggap telah menghambur-hamburkan uang negara untuk kunjungan luar negeri tak bermanfaat. Belum lagi kebijakan yang tak menyentuh akar permasalahan dan menyerap habis APBN.
"Siapa yang sebenarnya rezim layani? Cita-cita Pancasila atau cita-cita berkuasa?" demikian dalam keterangan itu.
Mahasiswa menilai pemerintah tengah mengalami persoalan serius dalam tata kelola negara dan menyebut perubahan mendasar sebagai jalan keluar atas berbagai persoalan yang terjadi.
Mereka mempertanyakan relevansi narasi persatuan bangsa ketika suara kritik dari masyarakat dinilai kerap diabaikan dan dianggap sebagai gangguan. Mahasiswa juga menyoroti berbagai persoalan yang menurut mereka bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila, mulai dari konflik agraria yang belum terselesaikan, minimnya transparansi pemerintahan, hingga kebijakan penghematan yang dibebankan kepada masyarakat di tengah dugaan pemborosan oleh elite negara
Dalam forum tersebut, beberapa dari mahasiswa sempat menyampaikan pertanyaan secara langsung kepadaNusron sertaSudaryono mengenai tanggung jawab masing-masing terhadap kondisi Indonesia saat ini.
Penjelasan Budiman dan Sudaryono
Terpisah, Budiman melalui keterangannya menyatakan menyesalkan penghentian acara diskusi GIK UGM semalam. Menurut dia, forum yang semestinya menjadi ruang bertukar gagasan itu terpaksa berakhir lebih cepat setelah situasi di dalam ruangan memanas.
"Seharusnya kita bisa berdialog dengan sehat dan lancar. Saya mau kok berdiskusi dengan mahasiswa. Tapi tadi sayangnya kondisinya sudah tidak kondusif," kata Budiman dalam keterangannya usai acara.
Budiman mengatakan dirinya sebenarnya tidak keberatan untuk tetap berada di dalam gedung dan menemui mahasiswa. Namun, petugas keamanan memutuskan mengevakuasinya karena khawatir kondisi semakin tidak terkendali.
Adapun Sudaryono menegaskan dirinya bersama Nusron dan Budiman datang ke kampus untuk berdialog secara terbuka dengan mahasiswa dalam forum yang telah direncanakan dan mendapat izin dari pihak kampus.
Menurutnya, sejak awal para narasumber membuka ruang bagi mahasiswa untuk menyampaikan pertanyaan maupun kritik terhadap pemerintah. Namun, setelah sekitar 30 hingga 40 menit diskusi berlangsung, muncul sekelompok peserta yang menginginkan forum dihentikan sehingga situasi menjadi tidak kondusif, meski sebagian besar mahasiswa disebut masih ingin melanjutkan dialog.
Sudaryono mengatakan dirinya dan Nusron tetap bertahan karena meyakini dialog sebagai jalan terbaik menyelesaikan perbedaan pandangan. Namun situasi semakin memanas setelah terjadi pelemparan air dan dugaan tindakan fisik terhadap dirinya. Atas pertimbangan keamanan, keduanya kemudian diminta meninggalkan lokasi.
Ia membantah anggapan bahwa dirinya menghindari dialog. "Kalau ada yang mengatakan Sudaryono dan Nusron kabur, itu tidak tepat. Justru kami yang datang untuk berdiskusi. Bahkan saat mobil kami dicegat dan kami dicari-cari, kami keluar lagi dan duduk bersila di aspal untuk melanjutkan dialog," tegasnya.
Dalam dialog spontan tersebut, mahasiswa menyampaikan kritik terkait persoalan agraria dan penggusuran. Sudaryono menyatakan siap memverifikasi langsung setiap persoalan yang disampaikan. Ia menegaskan pemerintah terbuka terhadap kritik dan siap berdialog dengan berbagai elemen masyarakat.
(kum/sur)
Add
as a preferred source on Google

4 hours ago
4

















































