Jakarta, CNN Indonesia --
Badan Narkotika Nasional (BNN) mengusulkan penambahan anggaran hingga Rp5,05 triliun dalam rancangan anggaran pendapatan dan belanja negara (RAPBN) 2027.
Usulan itu naik hingga lima kali lipat dari pagu indikatif BNN 2027 yang ditetapkan Kementerian Keuangan sebesar Rp1,44 triliun.
Kepala BNN Suyudi Ario Seto mengatakan jumlah pagu indikatif BNN dalam RAPBN turun 4,59 dari 2026.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dalam pelaksanaan program P4GN untuk mendukung Asta Cita dan program prioritas Presiden, BNN mengusulkan tambahan anggaran tahun 2027 sebesar Rp5,05 triliun," kata Suyudi dalam rapat kerja di Komisi III DPR, Rabu (17/6).
Menurut dia, usul penambahan anggaran itu diusulkan bersumber dari pinjaman luar negeri sebesar Rp3,54 triliun, dan rupiah murni sebesar Rp1,51 trilliun.
Suyudi mengatakan keputusan itu diambil karena sejumlah program strategis terancam tak bisa dilakukan dengan pagu indikatif 2027 sebesar Rp1,44 triliun.
"Sehingga dengan adanya usulan tambahan ini, kami mengharapkan pagu ideal BNN tahun 2027 dapat ditetapkan menjadi sebesar Rp6,49 triliun dengan rincian sebagai berikut," katanya.
Menurut Suyudi, tambahan anggaran itu akan dialokasikan pada sejumlah sektor mulai dari pencegahan, pemberdayaan masyarakat, hingga penindakan. Dari total jumlah penambahan, pos terbesar akan dialokasikan untuk pemberantasan yang jumlahnya mencapai Rp579,27 miliar.
Menurut Suyudi, jika usul anggaran itu tak dipenuhi, upaya penindakan terancam lumpuh.
"Perlu kami tegaskan bahwa jika usulan tambahan di bidang pemberantasan ini tidak disetujui, BNN berpotensi mengalami kelumpuhan operasional penindakan," katanya.
Latih petani kopi
Sementara, pada program pemberdayaan masyarakat, Suyudi bilang pihaknya telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp112,77 miliar.
Jumlah itu, kata dia, akan digunakan untuk pengembangan masyarakat di kawasan rawan tanaman terlarang, rawan peredaran gelap narkotika, hingga deteksi dini penyalahgunaan narkotika.
Suyudi mencontohkan, pemberdayaan masyarakat juga mencakup pada budidaya komoditas alternatif, seperti di Aceh. Sebagai daerah yang rawan tanaman ganja, dia ingin petani mulai beralih ke kopi.
"Seperti di Aceh misalnya, yang kita latihkan masyarakat di sana yang tadinya menanam atau bercocok tanam dengan ganja, kita latihkan menjadi petani kopi yang lebih produktif dan berpenghasilan," katanya.
(thr/isn)
Add
as a preferred source on Google

3 hours ago
6












































