Operator Klaim Cuaca Penyebab KM Virgo 8 Tenggelam, Syahbandar Bantah

2 hours ago 3

Surabaya, CNN Indonesia --

PT Virgo Karya Shipping selaku pemilik sekaligus operator KM Virgo Transport 8 mengklaim faktor cuaca ekstrem lah penyebab satu-satunya tenggelamnya kapal tersebut di perairan Laut Jawa, Minggu (13/9) dini hari.

General Manager PT Virgo Karya Shipping, Yoel Rihi, menduga kuat insiden tenggelamnya kapal yang memuat 243 jiwa dan 89 kendaraan itu dipicu oleh cuaca buruk dan hantaman gelombang tinggi.

Yoel menjelaskan, laporan pertama mengenai gangguan operasional kapal diterima pada pukul 01.00 WITA, Minggu dini hari. Laporan itu, kata dia menunjukkan adanya anomali gelombang di perairan Laut Jawa.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kalau untuk dugaan awal ini ya, ini tuh karena cuacanya buruk, gelombang. Saya dapat laporan itu jam 01.00 itu karena ada gelombang. Sesuai dengan laporan dari Basarnas juga memang posisi gelombang itu sekitar 1,5 sampai 2,5 meter. Emang dugaan pertama ini gara-gara gelombang itu aja, cuaca buruk," kata Yoel di kantornya, Senin (14/9).

Kendati dugaan awal mengarah pada faktor alam, dakron keamanan di KM Virgo seperti apakah alarm berbunyi tepat waktu, mekanisme penurunan sekoci, hingga dugaan kebocoran lambung kapal masih menjadi tanda tanya.

Perusahaan memang belum memberikan kronologi secara detail mengenai detik-detik karamnya kapal belum dapat diungkap. Yoel menegaskan bahwa manajemen sengaja memberikan ruang istirahat bagi para kru atau Anak Buah Kapal (ABK) yang baru saja lolos dari maut.

"Untuk mekanisme ini, kita masih belum dapat data aslinya karena untuk memberikan keterangan kru pun harus ditanya dulu. Dan memang dari kru pun kita enggak akan pasti langsung nanya, 'Gimana? Ada apa? Kejadian apa?' Harus kita fokusin mereka istirahat dulu, dirawat dulu sampai mereka sehat dan selamat," ucapnya.

Menghadapi kesimpangsiuran informasi yang beredar di media sosial, pihak operator juga memilih untuk tidak berspekulasi lebih jauh. Mereka menyatakan tunduk pada prosedur hukum dan keselamatan maritim dengan menyerahkan sepenuhnya pengusutan perkara kepada otoritas berwenang.

"Kalau itu (detail kejadian) masih belum saya konfirmasi. Harus nunggu hasil investigasi dari KNKT (Komite Nasional Keselamatan Transportasi) dulu. Alangkah baiknya untuk kepastian ini kita didiskusikan dengan Basarnas saja, soalnya saya juga pasti nunggu data dari mereka," ujar dia.

Tak hanya itu, Yoel juga menegaskan KM Virgo 8 dipastikan laik laut dan beroperasi dengan dokumen legalitas yang lengkap sebelum bertolak.

"Layak. Surat-surat lengkap. SPB (Surat Persetujuan Berlayar), kelaiklautan kapal, betul," tegas Yoel.

Soal performa mesin dan kelaikan fisik kapal, Yoel memastikan KM Virgo 8 juga rutin menjalani perawatan, termasuk pemeliharaan di galangan kapal awal tahun ini.

"Untuk informasi docking, terakhir itu kita lakukan di bulan Februari [2026] tahun ini. Full. Pasti harus, karena biar memenuhi standar yang ditetapkan," tambahnya.

Syahbandar bantah cuaca ekstrem

Di sisi lain Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Utama Tanjung Perak Surabaya, Agustinus Maun, menepis dugaan yang menyebut insiden yang menimpa KM Virgo Transport 8 di perairan Laut Jawa, Minggu (13/9), terjadi akibat kelalaian pengecekan teknis kapal maupun cuaca ekstrem.

Ia menyatakan KM Virgo 8 telah memenuhi seluruh aspek keselamatan sebelum Surat Persetujuan Berlayar (SPB) diterbitkan.

Kapal itu disebut sudah mengantongi sertifikat keselamatan yang masih berlaku hingga Februari 2027. Selain itu, verifikasi lambung dan permesinan dari Badan Klasifikasi Indonesia (BKI) juga berstatus aktif hingga Mei 2027.

Selain menjamin kelaikan kapal, KSOP juga membantah adanya pemaksaan izin berlayar di tengah potensi gelombang tinggi. Agustinus mengklaim pihaknya telah berkoordinasi langsung dengan Kepala BMKG Tanjung Perak yang mengonfirmasi bahwa pada hari kejadian, tidak ada peringatan dini atau early warning cuaca ekstrem yang bisa berdampak ke pelayaran.

Berdasarkan data prakiraan cuaca, kata dia, ketinggian gelombang di Laut Jawa pada hari keberangkatan berada di kisaran 1,5 hingga 2 meter. Kondisi ini dipastikan masih masuk dalam batas toleransi keselamatan laut untuk kapal dengan bobot sebesar 8.540 Gross Tonnage (GT).

"Dari informasi prakiraan cuaca pada tanggal itu, itu enggak ada masalah. Informasinya gelombang, ketinggian gelombang pada daerah itu Laut Jawa itu paling tinggi 2 meter. Dan kapal itu dengan bobot tonase 8.540 itu, itu masih bisa melewati situasi seperti itu," kata Agustinus saat ditemui di Terminal Gapura Surya Nusantara (GSN), Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Senin.

"Nanti ada informasi dari BMKG bahwa peringatan itu tidak diizinkan untuk pelayaran, baru kita hentikan. Hari itu kalau ada peringatan dini pasti kita tidak akan mengizinkan kapal itu untuk berlayar," tambahnya.

KM Virgo yang tenggelam di perairan Jawa disebut memuat 243 orang penumpang, awak kapal hingga kru. Serta ada juga 89 kendaraan.

Dari 243 korban, telah terevakuasi sebanyak 108 korban dalam kondisi selamat dan 6 korban dalam kondisi meninggal dunia, Sementara itu, sebanyak 129 orang lainnya masih dalam pencarian.

(frd/wis)

Read Entire Article
Sports | | | |