Jakarta, CNN Indonesia --
Panitia Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) menyimpan berkas usulan nama-nama kiai calon anggota Ahlul Halli wal Aqdi (Ahwa) di dalam kotak kaca yang dijaga ketat.
Ahwa merupakan majelis atau forum yang berisikan sembilan ulama-ulama sepuh atau kiai khos terpilih. Mereka nantinya bertugas untuk bermusyawarah dan menentukan pimpinan tertinggi PBNU, khususnya posisi Rais Aam.
Pantauan CNNIndonesia.com di lokasi, kotak tersebut ditempatkan di sebuah ruangan berpintu dan berjendela kaca gelap, persis di depan rumah KH Abdul Rozaq Sholeh alias Gus Rozaq, Ketua Umum Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setidaknya terdapat enam kotak kaca yang disimpan di dalam ruangan tersebut. Kotak-kotak itu dipantau terus-menerus melalui kamera pengawas atau CCTV.
Selain itu, sebanyak 15 anggota Satuan Inspeksi Tanggap Pengamanan (Sigap) Pondok Pesantren Bahrul Ulum turut berjaga di luar ruangan secara bergantian selama 24 jam penuh.
Rais Syuriah PBNU sekaligus Sekretaris Steering Committee (SC) Muktamar ke-35 NU, Mohammad Nuh, mengatakan usulan nama-nama Ahwa tersebut sudah diserahkan oleh Pengurus Wilayah NU (PWNU), Pengurus Cabang NU (PCNU), dan Pengurus Cabang Istimewa NU (PCINU) sejak awal proses registrasi peserta muktamar.
Usulan itu merupakan hasil musyawarah di tingkat PWNU, PCNU, maupun PCINU yang dilakukan sebelum keberangkatan ke lokasi muktamar.
"Nah, dari situlah pada saat beliau mendaftar registrasi kemarin, langsung dimasukkan usulannya itu," kata Nuh, Sabtu (29/8).
Nuh menegaskan berkas usulan itu belum boleh dibuka hingga waktu yang ditentukan dalam agenda muktamar. Karena itu, kotak-kotak tersebut disimpan di tempat yang dinilai aman dan bebas dari kecurigaan pihak mana pun.
"Tapi ini kan belum boleh dibuka. Nah, demi keamanan, transparansi, dan seterusnya, tentu ini disimpan di tempat yang aman, yang ndak ada kecurigaan," katanya.
Ia mengungkapkan kotak-kotak tak bisa dibuka tutup sewaktu-waktu. Untuk mengakses isinya, wadah itu harus dirusak atau dibongkar seluruhnya.
"Kotaknya pun juga tidak pakai kunci. Ya, karena kalau kunci nanti dipikir, 'sampeyan pegang kunci, nanti kuncinya sampeyan buka' dan seterusnya. Tidak ada kuncinya. Sehingga nanti bukanya dirusak, dijebol gitu," tuturnya.
Nuh menjelaskan alasan kotak tersebut ditempatkan di depan rumah Gus Rozaq. Menurutnya, ruang kaca di lokasi tersebut memungkinkan siapa pun dapat melihat langsung kondisi kotak, selain telah dijaga petugas dan dipantau CCTV.
"Ditempatkan di tempat yang depannya Gus Rozak, di situ ada ruang kaca sehingga siapapun bisa melihat, dijaga, dan ada CCTV-nya. Sehingga dipastikan aman," katanya.
Ia menekankan pentingnya pengamanan berkas tersebut mengingat Ahwa memiliki kewenangan memilih Rais Aam PBNU, yang selanjutnya akan memberikan restu kepada ketua umum terpilih.
"Karena Ahwa ini yang memilih Rais Aam. Ya, dari Ahwa itu yang akan memilih Rais Aam, dan Rais Aam nanti akan memberikan restu ketua umum," ujarnya.
Nuh mengatakan proses Ahwa harus dikawal dengan baik karena hasil dari mekanisme tersebut akan menentukan keabsahan kepemimpinan NU ke depan.
Berkas usulan nama-nama kiai calon anggota Ahwa itu nantinya akan dibuka dan ditabulasi menjelang Sidang Pleno penetapan anggota Ahwa.
Berdasarkan mekanisme yang berlaku, setiap PWNU, PCNU, dan PCINU mengusulkan sembilan nama kiai atau ulama yang dinilai layak masuk Ahwa, kemudian seluruh usulan tersebut dihimpun dan dihitung melalui proses tabulasi.
Sembilan nama dengan perolehan suara terbanyak dari hasil tabulasi itulah yang selanjutnya ditetapkan Muktamar sebagai anggota Ahwa, sebelum bermusyawarah menentukan Rais Aam PBNU periode 2026-2031.
(frd/har)

8 hours ago
9

















































