Ligaolahraga.com -
Berita Golf - US Amateur Championship menjadi panggung bagi para pegolf muda untuk membuktikan kemampuan mereka. Namun, edisi 2026 di Merion Golf Club memiliki cerita berbeda melalui sosok Brett Patterson, pegolf berusia 34 tahun yang datang dengan perjalanan karier tidak biasa.
Lima belas tahun lalu, Patterson merupakan salah satu talenta muda menjanjikan dari Middle Tennessee State University. Saat berusia 19 tahun, ia mencetak skor 62 pada putaran kedua kualifikasi final US Open di Hawks Ridge Golf Club dan berhasil mendapatkan tiket tampil di turnamen mayor tersebut.
Patterson memang gagal lolos cut setelah mencatat 77 dan 78 di Congressional Country Club. Namun, keberhasilannya menembus US Open pada usia belia membuatnya yakin bahwa karier profesional sudah menunggu di depan mata.
"Saat itu saya berpikir akan menjadi pegolf profesional. Saya merasa sudah bekerja cukup keras untuk mengejar karier tersebut," kata Patterson.
Rencana tersebut kemudian berubah drastis. Cedera siku yang membutuhkan operasi diikuti penurunan performa membuat kepercayaan dirinya ikut merosot. Alih alih melanjutkan perjalanan sebagai pegolf profesional, Patterson memilih meninggalkan golf kompetitif dan menekuni bidang akuntansi.
Ia kemudian melanjutkan pendidikan hingga meraih gelar doktor di University of Mississippi atau Ole Miss. Setelah lima tahun menjalani kehidupan akademik di Oxford, Mississippi, Patterson menjadi profesor akuntansi di universitas tersebut.
Meski impian menjadi pegolf profesional tidak pernah terwujud, Patterson justru merasa keputusan itu membawa dirinya menuju kehidupan yang lebih bahagia.
"Mimpi menjadi pegolf profesional memang tidak terwujud. Namun, saya justru sangat bersyukur. Pekerjaan saya sebagai profesor di Ole Miss benar benar seperti pekerjaan impian," ujarnya.
Ketertarikannya terhadap golf kompetitif akhirnya kembali muncul. Brett Patterson kemudian mulai mengikuti turnamen amatir dan berhasil memenangkan Mississippi Amateur untuk mendapatkan tiket ke US Amateur 2026. Penampilannya di Merion menjadi partisipasinya yang ketujuh pada ajang tersebut.
Kini, kesibukan sebagai profesor, peneliti, suami, dan ayah dua anak membuat Patterson tidak memiliki banyak waktu untuk berlatih. Ia bahkan beruntung jika bisa bermain sekali dalam sepekan.
Namun, keterbatasan waktu justru membuatnya bermain lebih sederhana dan efisien. Ia tidak lagi terobsesi menyempurnakan teknik seperti ketika masih berusia 19 tahun.
"Saya hanya fokus pada hal hal kecil yang penting. Saya tidak terlalu memikirkan teknik ayunan dan lebih banyak mengatur jarak pukulan wedge. Itu sangat membantu permainan saya," katanya.
Patterson mengawali US Amateur dengan skor 74. Hasil tersebut mungkin mengecewakan bagi dirinya di masa lalu, tetapi kini ia melihat golf dari sudut pandang berbeda.
"Jalani saja prosesnya dan jangan terlalu memikirkannya. Golf hanya bagian kecil dari kehidupan. Kalau mendapat kesempatan bertanding di level tinggi, nikmati setiap momennya," ujar Patterson.
Sebelum kembali mengajar pada 24 Agustus, Patterson masih memiliki kesempatan memperpanjang perjalanannya di US Amateur. Ia akan berusaha tampil lebih baik pada putaran berikutnya demi lolos ke fase match play dan mengejar trofi Havemeyer.
Apa pun hasilnya, Brett Patterson sudah mendapatkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar skor. Ia kembali ke tempat yang pernah menjadi impiannya, kali ini dengan pemahaman bahwa jalan hidup tidak selalu harus berjalan sesuai rencana.
Artikel Tag: us open, golf news, us amateur championship
Published by Ligaolahraga.com at https://www.ligaolahraga.com/golf/kisah-brett-patterson-tinggalkan-dunia-golf-demi-jadi-profesor

5 hours ago
5

















































