Jakarta, CNN Indonesia --
Abu vulkanik dari letusan Gunung Ili Lewotolok semakin meluas. Sebanyak 27 desa di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), kini terdampak erupsi tersebut.
Jumlah desa yang terdampak itu meningkat drastis dari awalnya hanya 7 desa.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lembata, Andris Korban mengungkapkan desa-desa yang terdampak meliputi Jontona, Lamaau, Baolaliduli, Aulesa, Lamawolo, Lamatokan, Kalikur WL, Umaleu, Buriwutung, Mampir, Leuwohung, Bareng.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu desa Kalikur, Normal, Normal 1, Leudanung, Leuwayan, Roma, Hoelea 1, Hoelea 2, Hingalamamengi, Meluwitung, Balauring, Wailolong, Lebewala, Wowong, dan Nilanapo juga ikut terdampak.
"27 desa ini tersebar di Kecamatan Ile Ape, Ile Ape Timur hingga wilayah Kedang. Baru kali ini abu vulkanik sampai ke wilayah Kedang, sebelumnya hanya di Ile Ape dan Ile Ape Timur," jelas Andris kepada CNNIndonesia.com, Senin (19/1) malam.
Walau aktivitas belajar mengajar di sekolah terdampak, namun pemerintah belum menetapkan libur karena berdalih belum terjadi peningkatan skala erupsi.
Air bersih tercemar
Salah satu masalah utama yang dihadapi warga adalah tercemarnya sumber air bersih. Kondisi hujan abu membuat air yang ditampung masyarakat ikut terkontaminasi abu vulkanik.
"Kita sedang berkoordinasi untuk distribusi air minum bersih. Sayangnya BPBD tidak memiliki anggaran untuk itu, jadi kami sudah identifikasi dan kerja sama dengan pihak swasta untuk dukungan," ujarnya.
Lahan pertanian rusak
Tak hanya air bersih, tanaman pertanian milik warga juga tidak bisa dikonsumsi karena tertutupi abu vulkanik.
"Sayuran petani penuh dengan abu, jadi tidak layak konsumsi," tandas Andris.
Selain itu, stok masker di BPBD sangat terbatas. Stok yang ada pun hanya untuk keperluan darurat dan sebagian sudah dibagikan kepada warga. Saat ini sebagian besar masyarakat menggunakan kain sebagai pelindung diri.
"Kami sudah berkoordinasi dengan pemerintah provinsi NTT untuk mengatasi kekurangan masker," ungkapnya.
Sebelumnya, Gunung Ili Lewotolok dinaikkan status aktivitas vulkaniknya dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) pada Minggu (18/1) pukul 11.00 Wita.
Petugas Pemantau Gunung Ili Lewotolok, Stanislaus Arakian, menjelaskan gunung tersebut menunjukkan peningkatan aktivitas sejak 4 Januari 2026 dengan kolom abu mencapai 300 meter di atas puncak.
Pada 13 Januari, tercatat 341 kejadian gempa erupsi dan aliran lava mulai teramati keluar dari kawah, yang sebelumnya hanya mengalir di dalam kawah. Peningkatan status dilakukan karena jumlah kejadian erupsi meningkat tajam dari hari ke hari.
(lou/dal)

6 hours ago
2

















































