Shakur Stevenson Tak Lagi Meminta Hormat, Ia Menuntutnya di Atas Ring

4 hours ago 1

Ligaolahraga.com -

Sejak kecil, Shakur Stevenson telah bertarung untuk satu hal yang sama: rasa hormat.

Tumbuh sebagai anak tertua dari sembilan bersaudara di Newark, New Jersey, Stevenson terbiasa hidup keras dan membuktikan dirinya, baik di dalam keluarga, di hadapan penggemar, maupun di mata para petinju elite.

Di dunia tinju modern, tempat popularitas kerap mengalahkan kualitas, perjuangan Stevenson untuk diakui justru semakin berat.

Sekitar lima tahun lalu, dunia tinju menobatkan Devin Haney, Ryan Garcia, Gervonta “Tank” Davis, dan Teofimo Lopez Jr. sebagai “Empat Raja” generasi ini.

Nama Stevenson tak termasuk, meski ia memiliki karier amatir yang jauh lebih mentereng, termasuk medali perak Olimpiade Rio 2016.

Padahal, secara teknik dan kecerdasan bertarung, Shakur Stevenson dianggap sebagai salah satu petinju paling komplet di eranya.

Stevenson kerap disamakan dengan Wilfred Benitez, sang “raja kelima” yang tak pernah benar-benar diakui pada zamannya.

Namun, petinju berusia 28 tahun itu menolak berada di pinggiran sejarah.

Dengan rekor sempurna 24 kemenangan tanpa kekalahan dan status juara dunia di tiga kelas berbeda, Stevenson merasa dirinya bukan sekadar pelengkap, melainkan bangsawan sejati di dunia tinju.

Meski begitu, pengakuan publik belum sepenuhnya datang. Gayanya yang defensif dan minim risiko membuatnya sering dicap “membosankan” oleh penggemar kasual.

Stevenson menyadari kritik itu, tetapi tak lagi terpengaruh. Ia memilih menjawab dengan peningkatan agresivitas, seperti yang ia tunjukkan dalam pertarungan-pertarungan terakhirnya.

Ia rela mengambil risiko, bahkan bertarung di kelas yang bukan ideal baginya, demi membuktikan bahwa ia lebih dari sekadar petinju teknis.

Langkah Shakur Stevenson meninggalkan promotor lamanya dan bergabung dengan Matchroom Boxing juga menandai perubahan pendekatan.

Ia ingin mengendalikan kariernya sendiri, membangun merek, dan mendapatkan laga-laga besar tanpa harus terus menunggu persetujuan pihak lain.

Bagi Stevenson, usia dan pengalaman telah mengajarkannya bahwa bakat saja tidak cukup—keberanian mengambil keputusan besar sama pentingnya.

Pertarungan melawan Teofimo Lopez di kelas 140 pound menjadi simbol tuntutannya akan rasa hormat.

Stevenson sadar ukuran tubuh bukan keunggulannya, tetapi ia percaya keterampilan mampu menutup semua celah.

Terinspirasi oleh keberhasilan Terence Crawford menaklukkan petinju yang lebih besar, Stevenson yakin bahwa kualitas teknik adalah senjata utama.

Kini, Shakur Stevenson tak lagi mengetuk pintu pengakuan. Ia mendobraknya. Ia tidak meminta hormat—ia menuntutnya.

Dan jika dunia tinju enggan memberikannya, Stevenson siap merebutnya dengan tinju, kecerdasan, dan keyakinan bahwa ring adalah tempat ia melakukan hal-hal luar biasa.

Artikel Tag: Shakur Stevenson, Teofimo Lopez, Terence Crawford

Published by Ligaolahraga.com at https://www.ligaolahraga.com/golf/shakur-stevenson-tak-lagi-meminta-hormat-ia-menuntutnya-di-atas-ring

Read Entire Article
Sports | | | |