Jakarta, CNN Indonesia --
Warga sekitar Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, mengeluhkan tumpukan sampah yang kerap menggunung dan menimbulkan bau tak sedap hingga tercium ke kawasan permukiman hingga radius ratusan meter.
"Kalau biasa tidak bau. Tapi kalau pas dibongkar atau musim hujan itu baunya sampai tempat saya, RT 3, sekitar 200 meteran tercium," kata salah satu warga RT 03/RW 04 Kelurahan Tengah, Kramat Jati, Roni ditemui Antara di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, Rabu (7/1).
Dia mengatakan bau menyengat biasanya muncul ketika sampah sedang dibongkar atau saat musim hujan. Permasalahan bau sampah di Pasar Induk Kramat Jati ini bukan hal baru karena sudah terjadi selama bertahun-tahun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Wah sudah lama sekali. Tahunan, bukan bulan. Kalau sudah dibersihkan ya tidak bau. Tapi kalau numpuk lagi, ya bau lagi," ujar Roni.
Dalam beberapa waktu terakhir, kata dia, tumpukan sampah di kawasan Pasar Induk bahkan terlihat menggunung. Kondisi ini semakin parah ketika pengangkutan sampah terhambat.
"Kadang-kadang kalau pas diambilin ya tidak menggunung. Tapi kalau pas tidak diambil ya gitu. Alasannya kan TPA Bantar Gebang lagi macet. Ya itu urusan pengelola. Tapi dampaknya ke warga," jelas Roni.
Dia mengaku terganggu dengan bau busuk yang kerap masuk hingga ke dalam rumah warga. "Asli bau. Sampai ke dalam-dalam rumah. Kadang-kadang sampai bilang, 'duh, ini bau sampahnya sampai begini'," katanya.
Sumber bau didominasi sampah sayuran busuk dari aktivitas jual beli di pasar. Kondisi ini tentu berbeda dengan sampah rumah tangga yang volumenya lebih kecil.
"Ini kan sampahnya luar biasa, sampah Pasar Induk. Apalagi sayuran kalau busuk ya tahu sendiri," ucapnya.
Dia berharap pengelolaan sampah di Pasar Induk dapat ditangani lebih serius agar tidak lagi menumpuk dan menimbulkan bau menyengat.
"Harapan warga ya supaya bersih. Walaupun ada sampah, cepat diangkat, jadi dampaknya enggak ke warga. Kalau pun bau, jangan terlalu sampai masuk rumah," kata Roni.
Warga juga berharap pengelola Pasar Induk bersama instansi terkait dapat mencari solusi agar permasalahan sampah tidak terus berulang.
Hal serupa dikatakan warga setempat lainnya Syahrul (50). Syahrul mengeluhkan, tumpukan sampah setinggi sekitar enam meter di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur ini membuat lalat kerap berdatangan ke rumah warga sekitar.
Kondisi tersebut semakin terasa saat musim buah. Lalat semakin banyak berkumpul di area depan rumahnya.
"Sudah lama, sudah bukan lama lagi, sudah tahunan seperti ini, tapi hampir ada sebulan terakhir lah yang tinggi," katanya.
Menurut dia, persoalan tumpukan sampah di pasar sudah berlangsung sejak satu bulan terakhir dan meresahkan warga.
Warga sekitar pasar, kata dia, enggan menyampaikan protes baik kepada pengelola Pasar Induk Kramat Jati maupun kepada Dinas Lingkungan Hidup.
"Tidak ada yang berani ngomong gitu aja. Tidak ada yang berani demo, tidak ada yang berani cuma hanya marah sendiri-sendiri aja ngomong begini," kata Syahrul.
(antara)

1 day ago
2
















































