Jakarta, CNN Indonesia --
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat ribuan bangunan rusak akibat gempa bumi yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT).
Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan hingga saat ini Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di wilayah terdampak terus memutakhirkan data kerusakan bangunan tempat tinggal.
"Rincian kerusakan rumah di wilayah Kabupaten Nagekeo, terdiri 116 unit rumah rusak berat (RB), 6 unit rumah rusak sedang (RS) dan 42 unit rumah rusak ringan (RR)," kata Berton dalam keterangannya, Senin (17/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemudian di Kabupaten Ende, kerusakan terdiri dari 108 unit rumah RB, 85 unit rumah RS, dan 268 unit rumah RR. Di Kabupaten Manggarai, rincian kerusakan meliputi 761 unit rumah RB, 76 unit rumah RS, 147 unit rumah RR.
Selanjutnya, di Kabupaten Manggarai Timur, kerusakan meliputi 23 unit rumah RB, 15 unit rumah RS, 11 unit rumah RR. Lalu di Kabupaten Manggarai Barat, kerusakan meliputi 481 unit rumah RB, 202 unit rumah RS, 231 unit rumah RR.
"Kabupaten Ngada, total kerusakan mencapai 1.796 unit rumah. BPBD masih melakukan pendataan dan verifikasi tingkat kerusakan tersebut," tutur Berton.
"Sedangkan di Kabupaten Sikka, jumlah tempat tinggal terdampak meliputi 145 unit rumah RB, 16 unit rumah RS, 12 unit rumah RR," sambungnya.
Selain rumah warga, guncangan gempa juga merusak sejumlah fasilitas umum. Di antaranya, tempat ibadah, fasilitas kesehatan, pendidikan, perkantoran dan fasilitas umum lain, termasuk akses jalan.
Berton menyebut tim SAR gabungan tetap disiagakan di lokasi, meski hingga saat ini sudah tidak ada warga yang dilaporkan hilang akibat gempa bumi. Tim SAR tersebut meliputi personel Basarnas 63 orang dan potensi SAR 1.799 orang.
"Basarnas tetap menurunkan personel secara optimal khususnya di Kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur," ucap dia.
Disampaikan Berton, selain operasi pencarian dan pertolongan, pelayanan medis darurat terus diupayakan sejak terjadinya gempa. Pos komando akan mengoperasikan rumah sakit lapangan untuk memberikan pelayanan kepada warga.
Hingga saat ini, Pos Pendamping Nasional mencatat jumlah gempa susulan mencapai 1.576 kali, dengan magnitudo terbesar 6,2.
Sedangkan BMKG merilis, dari total gempa susulan tadi, sebanyak 54 gempa susulan yang dirasakan warga. Aktivitas gempa masih fluktuatif dan pola peluruhan belum terlihat jelas. Diperkirakan kondisi akan mulai stabil dalam 2-3 minggu ke depan.
Sebelumnya, gempa berkekuatan 7,7 magnitudo mengguncang NTT pada Sabtu (15/8). Gempa tersebut berpusat di Kabupaten Nagakeo.
Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (Pemprov NTT) telah menetapkan Status Tanggap Darurat Bencana Gempa Bumi di Provinsi NTT selama 14 hari, terhitung mulai 15 hingga 28 Agustus 2026.
Per Senin hari ini, BNPB mencatat jumlah korban meninggal dunia akibat gempa bumi yang mengguncang wilayah NTT bertambah menjadi 68 jiwa dan sebanyak 213 lainnya luka-luka.
(dis/isn)

5 hours ago
3
















































