Polisi: Kematian Siswa SMPN 19 Tangsel karena Tumor, Bukan Bullying

6 hours ago 1

Jakarta, CNN Indonesia --

Polisi menyatakan kematian siswa SMP Negeri (SMPN) 19 Kota Tangerang Selatan (Tangsel) bukan akibat perundungan (bullying), melainkan karena tumor di kepala.

Kapolres Tangsel AKBP Victor Daniel Henry Inkiriwang menyampaikan kesimpulan tersebut diperoleh setelah serangkaian penyelidikan dan pemeriksaan menyeluruh terhadap para saksi serta ahli.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Di mana empat saksi dari pihak sekolah, itu kepala sekolah dan guru. Lalu dua saksi dari pihak rumah sakit Fatmawati, kemudian lima saksi yaitu teman sekelas dari korban, kemudian saksi juga terduga pelaku, kemudian tiga orang saksi yaitu dari pihak ortu dan keluarga korban," kata Victor saat konferensi pers di Mapolres Tangsel, Kamis (1/1).

Selain memeriksa saksi, polisi juga melibatkan enam orang ahli yang terdiri dari dokter spesialis mata, dokter spesialis anak, dokter spesialis anak neurologi, dokter umum, dokter forensik, serta ahli pidana.

"Alasan kami melibatkan ahli yang banyak karena kami melihat selain metode penyelidikan harus komprehensif berdasarkan bukti ilmiah, kami juga ingin meluruskan bagaimana penyebab kematiannya korban, rangkaian perbuatan di TKP dan lain sebagainya sehingga 6 ahli ini kami libatkan," jelasnya.

Sementara Ahli Forensik RSUD Kabupaten Tangerang, Liauw Djai Yen menyatakan bahwa hasil pemeriksaan menyimpulkan korban meninggal dunia akibat tumor di kepala yang menyebabkan pendarahan dan penyumbatan cairan di otak.

"Dapat disimpulkan bahwa sebab kematian dari pasien karena akibat sebuah tumor di bagian kepala. Bagian tumor itu kemudian menimbulkan pendarahan yang bisa dibilang pendarahan tersebut menyumbat saluran cairan di otak, itu lah yang penyebab susah pernapasan yang akhir menyebabkan kematian," ujarnya.

Liauw Djai Yen mengatakan berdasarkan hasil pemeriksaan Magnetic Resonance Imaging (MRI) dari RS Fatmawati, tidak ditemukan adanya tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban.

"Dari hasil MRI ini dari rumah sakit Fatmawati tidak ditemukan adanya tanda-tanda kekerasan," ujarnya.

Sebelumnya MH (13), siswa SMPN 19 Tangsel diduga korban perundungan atau bullying di Tangsel meninggal dunia setelah sepekan dirawat di Rumah Sakit Fatmawati, Jakarta Selatan pada 16 November lalu.

MH diduga menjadi korban perundungan oleh teman kelasnya. MH sempat dipukul menggunakan bangku besi di bagian kepala di ruang sekolah saat hendak jam istirahat pada 20 Oktober 2025.

Setelah kejadian itu, pada Selasa (21/10) korban mulai mengeluhkan rasa sakit yang ditimbulkan akibat kejadian tersebut. Saat pihak keluarga melakukan pendalaman, ternyata korban mengaku sudah sering menerima bullying mulai dari dipukul hingga ditendang.

Di sisi lain Kepala Sekolah di SMP Negeri 19 Frida Tesalonik mengatakan mendiang MH tidak pernah melapor atau mengadu kepada wali kelas terkait dugaan perundungan atau bullying dari temannya sejak masa pengenalan lingkungan sekolah ( MPLS).

"Jadi wali kelasnya sering bertanya kepada anak-anak, ada ada masalah enggak sih di dalam kelas? Atau ada bercanda yang berlebihan? Itu selalu ditanyain, "kata Frida kepada wartawan di SMPN 19 Tangsel, Selasa 18 November lalu.

(fra/arl/fra)

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Sports | | | |