Yogyakarta, CNN Indonesia --
Polisi bekerjasama dengan Interpol memburu sesosok warga negara (WN) China yang diduga mengotaki sindikat love scamming jaringan internasional bermarkas di Sleman, DIY.
Kasatreskrim Polresta Yogyakarta Kompol Riski Adrian mengatakan WN China tersebut dugaannya memakai jasa PT Altair Trans Service, perusahaan penyedia tenaga kerja sesuai permintaan klien yang berkantor di sebuah bangunan dua lantai daerah Jalan Gito Gati, Donoharjo, Ngaglik, Sleman, DIY.
WN China ini, menurut Adrian, merupakan pemilik sebuah aplikasi kencan bernama WOW yang merupakan hasil modifikasi atau kloningan aplikasi bernama Nayo. Nayo ini tak tersedia layanannya di Indonesia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan aplikasi WOW inilah, para pegawai di PT Altair Trans Service melancarkan praktik penipuan online model love scamming dengan perkiraan keutungan Rp30 miliar per bulan.
WN China ini juga dugaannya mengetahui asal muasal foto hingga video bermuatan usur pornografi yang ditransaksikan melalui WOW kepada para pengguna aplikasi atau user asal Amerika Serikat, Kanada, Inggris dan Australia.
"Aplikasinya aplikasi China, bahwa yang membawa ke sini sebenarnya orang China. Kita juga sudah kita kantongi (identitasnya), kita kemarin sudah menghubungi juga Divhubinter Polri, yang nanti kita akan koordinasi sama Interpol untuk pengejaran yang bersangkutan," kata Adrian di Mapolresta Yogyakarta, Rabu (7/1).
Menurut Adrian, Polresta Yogyakarta juga telah berkoordinasi dengan Kepolisian Daerah Lampung guna mengusut cabang lain PT Altair Trans Service di Provinsi Lampung.
"Kita lakukan komunikasi untuk penindakan," tegas Adrian.
Dari kasus ini sendiri, polisi telah menetapkan enam orang sebagai tersangka selepas operasi penggerebekan PT Altair Trans Service, Senin (5/1) lalu.
Keenam tersangka adalah R (35), warga Sleman, selaku pemilik atau CEO PT Altair Trans Service; H (33) asal Kebumen selaku HRD; P (28) asal Ponorogo dan M (28) asal Nulle, NTT selaku project manager; serta V (28), asal Bandung dan G (22) asal Bantul selaku team leader.
Sementara sekitar 60 orang pegawai PT Altair Trans Service masih berstatus saksi. Perusahaan ini sendiri total memiliki hampir 200 orang karyawan yang juga dikenal dengan sebutan agen.
Dalam operasinya, perusahaan mempekerjakan karyawannya sebagai seorang perempuan, sekaligus administrator aplikasi WOW yang sudah terinstal pada handphone juga laptop. Aplikasi ini menempatkan admin pada sebuah 'chat room' berisikan pengguna atau user lain asal Amerika Serikat, Inggris, Kanada serta Australia.
Pegawai perusahaan yang menjadi admin akan berinteraksi lalu berupaya melancarkan bujuk rayu kepada user di dalam setiap chat room. Misi mereka adalah bagaimana para user alias korban dari berbagai negara itu melakukan transaksi, yakni melalui mekanisme pembelian koin atau top-up untuk mengirimkan gift (hadiah) yang tersedia pada aplikasi tersebut.
Ada empat jenis gift dalam aplikasi, yakni Mawar (8 koin), Mahkota (199) koin, Tiara (699) koin dan Supercar (999 koin). Dengan memberikan gift yang dibeli dengan koin, maka user bisa mengakses konten-konten porno dari agen.
Adrian pun menekankan, bahwa konten-konten pornografi yang ditransaksikan bukan produksi oleh para pegawai. Mereka cuma mengatur peredaran foto maupun video 'biru' yang disediakan perusahaan.
Setahun beroperasi, perusahaan ini telah meraup keuntungan dengan nominal fantastis yakni kisaran Rp30 miliar per bulan. Kalkulasinya, setiap shift karyawan ditarget mengumpulkan 2 juta koin per bulan. Dalam aplikasi ini, 16 koin dapat dibeli seharga US$5.
"Jadi kalau dihitung secara kalkulasi per shift itu dapat menghasilkan sebesar Rp10 miliar lebih per bulannya, satu shift. Sedangkan mereka dalam pelaksanaan pekerjaannya, mereka dibagi ke dalam tiga shift," urai Adrian.
Sementara para pegawai atau agen ini dibayar per bulannya Rp2,4 juta hingga Rp3,5 juta. Plus, bonus berdasarkan asesmen performa, dengan kisaran nominal Rp1 juta sampai Rp5 juta tiap bulan/orang.
Sedangkan pendapatan bulanan pemilik PT Altair Trans Service ini adalah total potongan senilai Rp750 ribu dari setiap karyawan per bulannya. Itu pun belum termasuk jatah bonus.
Kinerja dipelototi klien WN China
Meski gaji bulanan dan bonus terbilang menjanjikan, model kerja para agen di PT Altair Trans Service ini tergolong ketat karena dipantau langsung oleh klien, yakni si WN China.
Adrian menerangkan, para agen harus aktif berinteraksi dengan 5-15 user di chat room setiap waktunya. Penempatan pada chat room ini pun acak tiap harinya bagi para karyawan. Semua diatur oleh klien perusahaan.
Saban hari, kinerja atau interaksi para agen ini dipantau langsung dari jarak jauh oleh klien.
"Bahkan mereka ini, apa si agen-agen ini, mereka itu kalau tidak ada transaksi, tidak ada pergerakan selama 10 menit, itu (klien) China langsung notif. Itu kenapa atas nama ini silakan ditegur, tidak ada, sudah melewati batas 10 menit tidak ada aktivitas atau interaksi," kata Adrian.
"Iya, (aktivitas dengan user) mau chatting iya gitu, chatting atau foto, video kirim gitu. Itu terpantau sampai sana, bahkan pernah kejadian salah satu agen ini sempat keluar makan ke depan (kantor) membawa HP tersebut. Itu langsung dipantau di sana, itu kok keluar dari area lokasi (kerja)," sambungnya.
Selain menetapkan enam orang sebagai tersangka, petugas menyita 4 kamera pengawas atau CCTV, 2 router WiFi serta 30 unit handphone juga 50 unit laptop yang di dalamnya menyimpan berbagai foto hingga video bermuatan pornografi.
Atas perbuatannya, para tersangka dijerat dengan sejumlah pasal, antara lain Pasal 407 atau Pasal 492 KUHP sebagaimana diatur dalam UU Nomor 1 Tahun 2023, jo Pasal 20 dan Pasal 21 KUHP, serta ketentuan dalam UU Informasi dan Transaksi Elektronik dan UU Pornografi.
Para tersangka diduga dengan sengaja memproduksi dan/atau menyebarluaskan konten bermuatan pornografi dan penipuan melalui media elektronik. Ancaman hukuman yang dikenakan minimal enam bulan dan maksimal 10 tahun penjara.
(kum/isn)

1 day ago
2

















































