Jakarta, CNN Indonesia --
Jakarta selalu punya dua wajah saat Lebaran. Di satu sisi, kota ini mendadak lengang, jalan-jalan yang biasanya padat berubah lapang, gedung-gedung perkantoran seakan ditinggalkan, dan suara klakson nyaris tak terdengar.
Namun di sisi lain, ada kehidupan yang tetap berjalan pelan tapi pasti, dijaga oleh mereka yang memilih tinggal.
Di media sosial, muncul istilah yang terdengar jenaka sekaligus getir, "Jakarta tinggal pemain inti."
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kalimat itu mungkin dilontarkan dengan nada bercanda, tapi di baliknya tersimpan cerita tentang tanggung jawab, pengorbanan, dan pilihan hidup yang tidak selalu mudah.
'Pemain inti' bukanlah selebritas atau orang-orang penting yang sering muncul di layar kaca. Mereka adalah para pekerja yang tetap berada di kota saat jutaan orang mudik, menjaga transportasi tetap berjalan, memastikan toko tetap buka, dan layanan penting tetap tersedia.
Mereka menanggung rindu yang ditunda. Ada yang memilih menahan keinginan untuk pulang, melewatkan momen berkumpul, hingga menukar hangatnya keluarga dengan jam kerja yang lebih panjang, semua demi satu hal agar orang-orang di rumah bisa merayakan Lebaran dengan tenang.
Dasman adalah salah satunya. Pria paruh baya asal Padang, Sumatera Barat itu justru memulai hari Lebarannya dari balik kemudi bus TransJakarta. Saat banyak orang bersiap pulang kampung, ia memilih tetap menyusuri jalan ibu kota yang tak biasa sepinya.
Ia mengemudikan rute 1H yang menghubungkan Tanah Abang hingga Stasiun Gondangdia. Pengalamannya sebagai sopir truk lintas pulau selama bertahun-tahun membuatnya terbiasa menghadapi jalanan panjang dan kesunyian.
Namun Lebaran selalu menghadirkan sunyi yang berbeda, lebih personal, lebih terasa.
Ini adalah tahun kedua Dasman tidak pulang saat Lebaran. Bukan karena ia tak rindu, melainkan karena ia tahu ada yang lebih penting untuk didahulukan.
Dengan tetap bekerja, ia mendapatkan upah lembur yang jauh lebih berarti dibanding ongkos pulang.
"Yang penting keluarga di rumah bisa Lebaran dengan tenang, enggak kepikiran soal uang," ujarnya pelan melansir Antara, seolah meredam rindu yang tak sempat ia ucapkan panjang-panjang.
Di sudut lain kota, cerita serupa datang dari balik meja kasir sebuah minimarket di kawasan Gondangdia. Bunyi pemindai barcode menggantikan gema takbir yang dulu akrab bagi Anwar, pemuda asal Cianjur, Jawa Barat.
Sudah tiga tahun ia Lebaran di Jakarta. Tak ada lagi malam takbiran bersama teman-teman seperti dulu. Yang ada hanyalah shift kerja, rak barang yang harus dirapikan, dan antrean pelanggan yang datang silih berganti.
Anwar memilih pulang beberapa hari setelah Lebaran usai. Baginya, waktu adalah soal strategi. Bekerja saat hari raya berarti tambahan penghasilan, sesuatu yang lebih ia prioritaskan dibanding pulang tepat di hari H.
Di usianya yang masih muda, ia sudah memahami bahwa rindu kadang harus ditunda. Setiap barang yang ia pindai, setiap transaksi yang ia selesaikan, menjadi bagian dari upayanya menghadirkan kebahagiaan bagi keluarga di rumah.
Sementara itu, di kawasan Masjid Istiqlal, Abi menjalani Lebaran dengan cara yang berbeda. Ia menjadi petugas zakat di Unit Pengumpul Zakat, memastikan setiap donasi yang masuk bisa segera disalurkan kepada yang berhak.
Menjelang hari raya, ritme kerjanya justru semakin cepat. Waktu terasa sempit, sementara tanggung jawab terus bertambah. Setiap rupiah yang dititipkan harus dikelola dengan cermat dan disalurkan tepat waktu sebelum salat Id dilaksanakan.
Abi tak punya ruang untuk pulang. Ia tetap berada di Jakarta, berkutat dengan data dan distribusi, saat kota bersiap menyambut hari kemenangan.
Namun baginya, ada makna yang lebih dalam dari sekadar bekerja. Ia percaya apa yang dilakukannya bukan hanya soal tugas, tetapi juga bagian dari ibadah, memberi manfaat bagi orang lain sekaligus menjadi jalan rezeki bagi keluarganya.
Dasman, Anwar, dan Abi mungkin tak pernah saling bertemu. Namun mereka terhubung oleh pilihan yang sama, tetap tinggal ketika sebagian besar orang pergi.
Mereka adalah denyut yang tak terlihat, penopang kota di tengah arus mudik yang setiap tahunnya melibatkan jutaan orang. Saat Jakarta tampak 'mati', justru merekalah yang menjaganya tetap hidup.
Sebab pada akhirnya, sebuah kota tidak hanya dibangun oleh gedung-gedung tinggi atau kebijakan pemerintah. Ia bertahan karena orang-orang biasa yang terus bekerja dalam diam. Setia, teguh, dan sering kali luput dari perhatian.
(tis/tis)
Add
as a preferred source on Google

5 hours ago
3











































