Jakarta, CNN Indonesia --
Ika Safitri (27) dan suaminya, Harun, sudah mencoba berbagai usaha namun tidak pernah bertahan lama. Tak patah arang, tahun 2024 mereka mencoba peruntungan baru dengan menjual makanan kampung, cireng isian.
Ika dan Harun menjual beberapa varian cireng isi, mulai dari isi ayam original, ayam pedas, daging cincang, sosis, hingga keju.
Alasan mereka memilih cireng sederhana: cireng bukan jajanan viral yang ramai sesaat kemudian tenggelam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Itu jadi salah satu alasan milih cireng, karena bukan makanan viral yang sebentar," kata Ika kepada CNNIndonesia.com, saat ditemui di rumahnya di Depok, Jawa Barat, Kamis (13/8).
Ika meyakini cireng makanan yang bisa beradaptasi dan diterima lidah orang banyak.
Dari keyakinan itu, keduanya mulai merintis usaha dengan membuat cireng sendiri. Pasangan ini pun bergerilya mencari ilmu di dunia maya.
Suami Ika rajin masuk grup penjual cireng isi di media sosial Facebook untuk belajar cara membuat adonan cireng, hingga akhirnya menemukan adonan aci yang menurut mereka pas dan disukai pembeli.
Dengan modal awal Rp2 juta, Ika dan suami mulai menjual cireng dengan cara mangkal di depan sekolah di Jalan Merdeka, Kota Depok.
Suaminya lebih sering berada di lokasi, sementara Ika mengurus anak yang masih berusia 3 tahun.
"Karena target kita kan jajanan, jadi ya anak-anak sekolah gitu," ujarnya.
Ika adalah seorang ibu rumah tangga dan suaminya korban pemutusan hubungan kerja (PHK). Karenanya, bagi pasangan ini, berdagang cireng isi adalah cara untuk bertahan dan memenuhi kebutuhan hidup harian.
Ikhtiar mereka tak bertepuk sebelah tangan. Cireng isi yang dijual Rp1.000 per buah, ternyata disukai oleh anak-anak sekolah dan orang-orang yang melintas.
Perlahan tapi pasti, penjualannya meningkat. Dari awal hanya membawa 200 buah per hari, ia bisa menjual sampai 500 buah pada bulan-bulan berikutnya.
Menurut Ika, kualitas dan konsistensi adalah hal kunci bagi pedagang makanan seperti dirinya. Karena itu, Ika selalu mendorong usaha cireng isiannya terus berjalan meski harus bangun pagi buta menyiapkan bahan-bahan produksi.
"Kalau hari ini kita jualan, besok enggak, nanti orang malah, ih gimana sih, kok udah tutup aja gitu, ih kok enggak buka gitu," ujarnya.
Usaha cireng Ika semakin berkembang ketika pedagang di kantin sekolah menawarkan diri menjadi reseller.
Tawaran itu langsung disambut Ika. Produksi cirengnya meningkat karena permintaan pedagang kantin.
Dari penjualan di kantin dan di depan sekolah, Ika bisa mendapat omzet sekitar Rp400 ribu per hari.
Semangat usaha Ika dan suami semakin besar. Mereka yakin usaha cireng isi ini bisa bertahan lebih lama dari usaha mereka yang sebelumnya.
Cireng Asik yang diproduksi oleh Ika dan suaminya di Depok, Jawa Barat. (Foto: Cireng Asik)
Membuka peluang baru
Bagi pelaku usaha kecil, apalagi baru merintis, mencari pembeli tidak harus selalu membuka toko di pinggir jalan, lalu berharap pembeli datang. Era digital membuat pelanggan bisa datang dari mana saja, termasuk lewat ponsel.
Ika yang sebelumnya tak pernah merambah pasar online, kini mencoba menjual cireng di marketplace. Ia melakukan itu sejak pertengahan tahun lalu, dengan membuka akun Shopee.
Ia tahu, penjual cireng sudah banyak di platform tersebut. Namun, Ika tetap mencoba dan belajar dari kakak dan rekan-rekannya yang sudah lebih dahulu membuka toko di Shopee.
"Kita pakainya Shopee. Kenapa pilih itu? Karena itu (marketplace) paling besar," ujar Ika.
Berjualan di Shopee, Ika memakai nama 'Cireng Asik' sebagai jenama (brand) produknya.
Banyak hal Ika pelajari sendiri untuk mengembangkan toko onlinenya.
Waktu pertama-tama, ia belum begitu memperhatikan visual foto di etalase termasuk packaging produk. Beberapa kali cireng yang ia kirim tiba dalam kondisi tak layak makan alias basi.
Setelah berbagai percobaan, Ika dan suami akhirnya menemukan cara mengatasinya, yakni dengan menggoreng cireng setengah matang dan vakum kemasannya.
"Setelah nemuin metode kayak setengah digoreng, divakum gitu kan, baru ternyata aman. Bahkan sempat beberapa kali kirim ke luar Pulau Jawa itu aman." kata Ika.
Namun, Ika membatasi pengiriman produknya hanya untuk ke Sumatera Selatan, Lampung, Pulau Jawa, dan Bali. Di luar daerah tersebut, Ika mengaku masih was-was kualitas produknya bisa bertahan dengan baik.
Ika tak menyangka toko onlinenya ini juga ramai pembeli. Hampir setiap hari ada pesanan lewat akun Shopee Cireng Asik.
Menurutnya, hari ini omzet harian Cireng Asik sekitar Rp700 ribu sampai Rp800 ribu per hari.
Pendapatan dari lapak online Shopee itu diakui Ika sudah melebihi pendapatan dari kantin sekolah.
"Kalau sekarang, udah banyakan online sih. Kayak, mungkin online 60 persen, sekolah 40 persen lah," ujarnya.
Dengan bisnis cireng yang semakin menjanjikan di marketplace Shopee, kini Ika dan suami bisa sedikit tersenyum lantaran usahanya bisa bertahan lebih lama dari usaha-usaha sebelumnya.
Ia juga bersyukur bisa menyisihkan sedikit rezeki untuk orang tua dan mempekerjakan saudara membantu produksi cireng.
Ika mengaku membuka toko online membuat waktunya lebih banyak berada di rumah. Ia jadi bisa mengurus anaknya yang masih berusia 4 tahun.
"Karena kan kita kerja di rumah, produksi di rumah, packing di rumah, jadi masih sama anak. Kita bersyukur bisa jualan online," ujarnya.
Cireng rujak salah satu produk yang dijual Ika lewat marketplace Shopee. (Foto: Cireng Asik)
Ketekunan Dinda lewat Gelang Temali
Dinda (25), punya cerita serupa. Berangkat dari hobi mengoleksi gelang handmade, Dinda ingin memproduksi sendiri, lalu menjualnya.
Ia terinspirasi gelang Bali yang identik dengan penggunaan tali atau benang dengan beragam pernak-pernik. Menurutnya, kedua bahan tersebut memiliki nilai handmade yang tinggi dan bisa menjadi nilai jual.
Dinda mempelajari dan mengembangkan material produk dan teknik pembuatan melalui Pinterest dan YouTube.
"Jadi bisa dikatakan untuk mendapatkan hasil produksi secara otodidak," kata Dinda kepada CNNIndonesia.com.
Sejak memutuskan menjual gelang handmade, ia langsung membuka lapak di marketplace Shopee. Usaha ini ia rintis sejak usianya 18 tahun atau sekitar 2019 lalu.
Dinda mengaku tidak kesulitan berjualan online lewat Shopee. Menurutnya, marketplace ini sangat membantu karena proses pendaftaran yang mudah dan cepat, interaksi dan komunikasi secara virtual, dan bisa menjangkau pasar secara luas.
Ia mengatakan toko online seperti Shopee sangat membantu usaha memasarkan produk gelangnya secara luas. Pengakuan Dinda, produk Temali kini telah terjual ke Pulau Jawa, Bali, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, hingga Maluku.
Gelang handmade buatan Dinda dibanderol antara Rp45.000 sampai Rp155.000.
Ia tak menepis persaingan di marketplace, terutama dengan para kompetitor yang menjual gelang atau produk sejenis dengan harga jauh lebih murah.
Sekali-kali Dinda merasa was-was. Akan tetapi, ia meyakini, produk kerajinan serupa yang dijual kompetitor dengan harga lebih rendah, pada dasarnya tidak memiliki value art dan tenaga ahli yang mumpuni.
Dinda meyakini gelangnya sebagai sebuah seni yang memiliki standar nilai jual. Karena itu, ia sangat memperhatikan produk dari Temali, termasuk dari kualitas bahan-bahannya
Menurutnya, Temali menggunakan bahan utama yaitu benang dan tali, di mana penggunaan kedua bahan ini untuk dijadikan gelang tidak dapat dibuat massal melalui mesin.
"Kami melalui bahan import yang tidak digunakan oleh kompetitor dan menciptakan model yang hanya dapat dibuat dengan tangan seperti hand stitching dan braided bracelet," katanya.
Gelang handmade UMKM Temali yang dibuat dari tali dan gelang dengan pernak-pernik warna-wanri. (Foto: Dok. Temali)
Mengikuti bazar pop up market
Seiring waktu, Dinda mulai mencoba mengikuti bazar pop up market agar customer memiliki pengalaman dan bisa melihat dan mencoba produk Temali secara langsung.
Sedangkan melalui e-commerce, ia berusaha untuk memberikan visual melalui foto dan video. Bukan hanya penampilan visual yang cantik, namun juga senatural mungkin agar visual produk tidak berbeda dengan aslinya.
Selain itu, Dinda juga memberikan deskripsi yang rinci mengenai bahan maupun ukuran. Karena customer online tidak dapat try on secara langsung, terkadang mereka ragu akan ukuran produk yang tidak cocok.
"Dari segi pengaturan stock akan dibuat sistem pre-order sehingga jumlah produksi sesuai dengan jumlah permintaan. Untuk produksi akan ada penambahan tenaga freelance jika permintaan sedang tinggi," ujarnya.
Dinda yang memulai bisnis Temali ini dari marketplace menyadari penjualan offline juga harus tetap dilakukan. Menurutnya keduanya harus berjalan dengan beriringan dan melengkapi satu sama lain.
"Dengan online, kita dapat menjangkau pasar yang lebih luas. Digitalisasi sangat bermanfaat bukan hanya untuk penjualan, namun juga menciptakan brand awareness dari sisi marketing. Ini sebagai jembatan yang menghubungkan Temali dengan customer," kata Dinda.
Bisnis yang berangkat dari hobi membuat Dinda merasa senang menjalaninya. Ia semakin semangat ketika gelang karyanya bisa terjual dan bertahan sampai saat ini.
"Lalu ketika membuka lapangan pekerjaan untuk orang lain memotivasi saya untuk selalu bertahan dan berusaha agar bisnisnya sustain and growth. Saya selalu berharap Temali tidak hanya berkembang secara individu, tetapi juga bisa menciptakan peluang dan memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar," ujarnya.
Pasar besar Shopee di Indonesia
Perubahan cara berjualan tecermin dari pertumbuhan ekonomi digital yang semakin besar. Badan Pusat Statistik mencatat, pada 2024 terdapat 4,40 juta usaha e-commerce di Indonesia, meningkat 15,30 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Menariknya, 97,38 persen dari usaha tersebut merupakan usaha mikro. Artinya, geliat perdagangan digital tidak hanya digerakkan oleh perusahaan besar, tetapi juga oleh jutaan usaha kecil yang perlahan mencari ruang baru untuk bertemu dengan konsumen.
Ruang itu semakin luas seiring dengan meningkatnya nilai transaksi digital. Sepanjang 2024, nilai transaksi e-commerce Indonesia mencapai Rp1.288,93 triliun, naik 17,08 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Di dalam ekosistem tersebut, marketplace menjadi salah satu kanal yang digunakan pelaku usaha untuk menjangkau pasar. BPS mencatat 17,23 persen usaha e-commerce menggunakan marketplace sebagai media penjualan.
Dari keseluruhan nilai transaksi e-commerce, sekitar 15,79 persen atau setara kurang lebih Rp203,58 triliun berlangsung melalui marketplace.
Bagi usaha kecil, angka-angka tersebut bukan sekadar statistik. Marketplace dapat menjadi etalase digital yang memungkinkan produk ditemukan oleh konsumen di luar lingkaran pelanggan yang selama ini mereka kenal.
Jika sebelumnya pasar sebuah usaha mungkin terbatas pada lingkungan sekitar, kehadiran platform digital membuka kemungkinan untuk mempertemukan produk dengan pembeli dari wilayah yang lebih luas.
Sementara itu, laporan Ecommerce in Southeast Asia 2026 dari Momentum Works mencatat, Shopee menguasai 54 persen GMV e-commerce Indonesia dari total nilai transaksi sekitar US$57,7 miliar sepanjang 2025. Angka itu menempatkan Shopee jauh dari Tokopedia-TikTok Shop yang menguasai 38 persen, Lazada 6 persen, dan Blibli 3 persen.
Skala Shopee juga terlihat dari tingginya aktivitas pengunjungnya. Pada Juni 2025, Shopee mencatat sekitar 126 juta kunjungan ke situsnya di Indonesia, hampir dua kali lipat trafik Tokopedia yang berada di kisaran 62,8 juta kunjungan.
Sea Limited, perusahaan induk Shopee, juga mencatat platform ini telah menjangkau konsumen dan penjual dalam skala besar di berbagai pasar Asia Tenggara.
Bagi usaha kecil seperti Ika dan Dinda, angka-angka tersebut memberi gambaran bahwa ketika mereka memindahkan etalase dari ruang fisik ke marketplace, mereka sesungguhnya sedang masuk ke pasar yang jauh lebih luas.
Shopee dukung produk lokal
Tak hanya menyediakan ruang bisnis, Shopee Indonesia juga aktif mendorong pertumbuhan produk lokal.
Shopee bersama Kementerian Perdagangan (Kemendag) telah meluncurkan Program Akselerasi Produk Lokal. Program ini dihadirkan guna memperluas akses pasar dan meningkatkan daya saing pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) agar naik kelas.
Deputy Director of Government Relations Shopee Indonesia, Balques Manisang menyatakan pihaknya berupaya mendukung pertumbuhan pelaku usaha dalam negeri.
Shopee memberikan enam program dukungan meliputi, Voucher Akselerasi Usaha, Kampus Shopee Kelas Online, Program Ekspor Shopee dan Program Ekspor Shopee Fleksi, Layanan Dikelola Shopee, Inovasi Fitur, serta Akselerasi Perlindungan.
"Sejak tahun 2022, sudah ada 4 miliar produk yang berhasil terjual melalui kanal Shopee pilihan lokal ini. Dan ada 40 persen peningkatan pendapatan yang dirasakan penjual lokal. Ini didukung juga sama berbagai voucher-voucher kita sepanjang 2025. Jadi ini semangat berkelanjutan lah," kata Balques, 13 Agustus lalu.
Balques menjelaskan Program Ekspor Shopee dan Ekspor Shopee Fleksi menjadi salah satu program unggulan program akselerasi produk lokal ini.
Selain akselerasi pertumbuhan bisnis, perlindungan terhadap merek tak kalah penting. Shopee menyediakan Brand IP Portal untuk memberikan kemudahan bagi para pelaku UMKM melaporkan segala bentuk pelanggaran merek dan plagiasi terhadap produk mereka.
Sokongan Kementerian UMKM
Di sisi lain Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) juga memberikan fasilitas kemudahan bagi para pelaku usaha mikro untuk berkembang dan mengakses digitalisasi.
Kementerian UMKM bakal memberikan diskon biaya layanan yang tertuang dalam Peraturan Menteri UMKM Nomor 3 Tahun 2026 tentang Pelindungan dan Peningkatan Daya Saing Usaha Mikro dan Usaha Kecil dalam Perdagangan Melalui Sistem Elektronik (PMSE).
Aturan tersebut mewajibkan penyelenggara perdagangan melalui sistem elektronik (PPMSE) non-UMKM memberikan potongan biaya layanan paling sedikit 50 persen kepada UMK terverifikasi yang hanya menjual produk dalam negeri.
Menteri UMKM Maman Abdurrahman menyebut progres penerapan diskon 50 persen biaya layanan sedikit lagi rampung.
Diskon akan berlaku bagi pelaku usaha mikro dan kecil (UMK) yang berjualan produk dalam negeri di platform e-commerce seperti Shopee dan lainnya.
Maman mengatakan proses yang tersisa berkaitan dengan integrasi teknis sistem Sapa UMKM dengan platform e-commerce. Menurutnya, integrasi tersebut tinggal menunggu penyelesaian persoalan jadwal pelaksanaannya.
"Jadi tinggal tahapan itu saja, ya. Saya pikir sudah 95 persen, tinggal 5 persen lagi, ada beberapa ini masalah timeline schedule saja pada saat proses integrasinya. Itu saja sih tinggal di situ," kata Maman dalam konferensi pers di Kementerian Perdagangan, Jakarta Pusat, Kamis (27/8) lalu.
Maman mengatakan integrasi dengan sistem Sapa UMKM diperlukan agar pemerintah dapat memantau perkembangan UMK yang berjualan secara daring. Data tersebut nantinya digunakan untuk menentukan pemberian insentif yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing pelaku usaha.
Omzet bertambah dan tantangan lain
Bagi pelaku UMKM seperti Ika dan Dinda, masuk ke ekosistem digital bukan sekadar berpindah tempat berjualan.
Ekonom CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan digitalisasi memang memberikan peluang baru bagi UMKM untuk menjangkau pasar yang sebelumnya sulit mereka akses. Tetapi, menurut Yusuf, masuk ke platform digital belum otomatis berarti sebuah usaha telah naik kelas.
"Omzet bisa meningkat, tetapi margin belum tentu ikut naik," kata Yusuf kepada CNNIndonesia.com.
Yusuf mengakui Indonesia memiliki basis UMKM yang sangat besar. Jumlahnya mencapai sekitar 65-66 juta unit dan berkontribusi sekitar 61 persen terhadap produk domestik bruto.
Dari jumlah itu, Yusuf menyebut sebagian besar masih berada dalam kategori usaha mikro sehingga kontribusi terhadap perekonomian masih lebih banyak ditopang oleh jumlah unit usaha dan kemampuan menyerap tenaga kerja dibandingkan produktivitas dan nilai tambah yang tinggi.
Dari hal itu, Yusuf menekankan pentingnya upaya pemerintah memastikan teknologi mampu membantu usaha-usaha tersebut tumbuh menjadi lebih produktif dan memiliki skala yang lebih besar.
Yusuf menilai dukungan pemerintah terhadap UMKM perlu bergerak dari sekadar mendorong onboarding digital menuju penguatan kapasitas usaha.
Pemerintah sebenarnya telah menyediakan berbagai instrumen, mulai dari Kredit Usaha Rakyat (KUR), QRIS, SIAPIK, pelatihan digital, hingga berbagai program onboarding UMKM.
Bagi Yusuf, berbagai pelatihan itu perlu dilengkapi dengan materi-materi lain seperti manajemen stok, pengelolaan margin, standardidasi produk, dan hal lain yang lebih mendasar.
"Pelatihan misalnya tidak cukup hanya mengajarkan cara membuka toko online, tetapi juga harus menyentuh manajemen stok, pengelolaan margin, penguatan merek, standar produk, pembiayaan, dan akses pasar," katanya.
Yusuf menekankan bahwa dukungan terhadap UMKM juga perlu diarahkan pada perluasan akses KUR hingga pemanfaatan histori transaksi digital sebagai dasar penilaian kredit.
Dengan bekal itu, marketplace dapat menjadi lebih dari sekadar tempat mempertemukan penjual dan pembeli. Ia dapat menjadi bagian dari infrastruktur yang membantu pertumbuhan para pelaku usaha kecil dan menengah.
(fra/fra)

9 hours ago
3

















































