Jakarta, CNN Indonesia --
Penyintas banjir di Desa Geudumbak, Kecamatan Langkahan, Aceh Utara, mulai menempati hunian sementara berbahan kayu meski fasilitas dasar seperti listrik dan kamar mandi yang tak kunjung tersedia.
Abdullah (58) warga Desa Geudumbak, mengatakan dirinya bersama istri dan dua anak telah menempati huntara kayu selama sepekan setelah sebelumnya mengungsi di tenda pengungsian sekitar satu bulan lebih.
"Sebelum masuk di huntara sini, saya bersama keluarga tinggal di tenda pengungsi," kata Abdullah mengutip Antara, Selasa (27/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rumah huntara kayu berukuran 6x6 meter dengan dua kamar itu dibangun di atas tanah milik Abdullah sendiri, dengan material pembangunan rumah dari kayu gelondongan yang hanyut di bawah banjir saat melanda kawasan itu.
Ia mengatakan proses pembangunan huntara kayu dilakukan secara mandiri bersama keluarga dan kerabat. Ia mengaku memilih lokasi huntara di lahannya sendiri agar dekat dengan kebun, meski saat ini belum bisa kembali bekerja karena lingkungan rumah belum bersih dan belum tersedia fasilitas mandi.
Pakai aki motor rusak
Meski tanpa listrik dan hanya beratapkan seng, Abdullah menyebut huntara jauh lebih layak dibandingkan tenda pengungsian yang terasa panas di siang hari dan dingin pada malam hari.
Untuk penerangan malam hari, Abdullah memanfaatkan aki motornya yang rusak akibat banjir, disambungkan kabel sederhana sebagai sumber listrik sementara di huntara kayu tempat keluarganya berteduh selama pemulihan pascabencana.
Akses menuju permukiman kini mulai terbuka setelah pembersihan kayu gelondongan dilakukan, memudahkan mobilitas warga yang sebelumnya harus berjalan di atas tumpukan kayu selama berminggu-minggu.
Abdullah berharap setelah akses jalan terbuka, pemerintah dapat membantu pemulihan ekonomi warga, mengingat kebun dan sumber penghidupan masyarakat rusak parah akibat banjir.
Sementara itu, Keuchik (Kepala Desa) Geudumbak Saiful Bahri mengatakan banjir berdampak pada 1.659 jiwa atau 457 kepala keluarga (KK) dengan 337 rumah hanyut, terutama di Dusun Pante Resep yang berada dekat sungai mati.
Berharap ada listrik sebelum puasa Ramadan
Warga yang rumahnya hanyut saat ini masih bertahan di tenda pengungsian, sebagian tinggal di rumah kerabat, sementara lainnya mulai menempati huntara kayu yang dibangun di atas pondasi rumah masing-masing.
Dia menyebutkan mayoritas warga Geudumbak bekerja sebagai petani dan pekebun, namun sekitar 80 persen kebun sawit, cokelat, pinang, jeruk, serta sawah rusak parah sehingga tidak dapat digunakan kembali pascabanjir.
Meski huntara mulai ditempati, Saiful menyebut dua dusun masih belum mendapat aliran listrik dan warga kekurangan air bersih, sehingga dia berharap pemerintah segera memenuhi kebutuhan dasar sebelum bulan puasa Ramadan agar pemulihan berjalan optimal.
Sebelumnya, Menteri Dalam Negeri Tito mengakui baru satu kabupaten/kota di Aceh yang kembali berjalan normal pasca ditimpa bencana banjir dan longsor beberapa waktu lalu. Ia mengatakan wilayah itu merupakan Kab. Aceh Besar.
"Aceh ini memang perlu kita bekerja lebih keras lagi karena di Aceh ini yang normal baru satu, yaitu Kabupaten Aceh Besar," kata Tito dalam rapat koordinasi satgas percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana Sumatra di Kantor Kemendagri, Jakarta, Senin (26/1).
Tito menyampaikan saat ini delapan daerah di Aceh masih memerlukan perhatian khusus pascabencana ini. Ia melaporkan tiga daerah itu berada di daerah pegunungan di Aceh, yakni Bener Meriah, Gayo Lues, dan Aceh Tengah.
"Itu rata-rata permasalahannya adalah jalan yang longsor atau hilang dan jembatan yang putus. Jalan nasional sudah masuk, sudah. Kalau tidak memakai jembatan sementara, dia memakai jalan alternatif dengan terobosan," ucap dia.
Tito juga menjelaskan terdapat 18 daerah terdampak di Aceh. Saat ini baru sembilan kab/kota sudah mengarah ke kondisi normal.
(tim/dal)

12 hours ago
1















































