Jakarta, CNN Indonesia --
Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel), langsung mengerahkan tim penyelamat satwa (wildlife rescue) setelah menerima laporan ada 12 bekantan (Nasalis larvatus) mati terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Sebelumnya dilaporkan belasan bekantan terdampak fatal akibat karhutla di Desa Balimau, Kecamatan Kalumpang, Kabupaten Hulu Sungai Selatan.
"Kami langsung memerintahkan tim penyelamat satwa untuk turun ke lokasi kejadian di Desa Balimau, Kecamatan Kalumpang, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, guna melakukan pengecekan lapangan," kata Kepala BKSDA Kalsel Agus Ngurah Krisna Kepakisan di Banjarbaru, Jumat (18/9) dikutip dari Antara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setibanya di lokasi, tim berkoordinasi dengan aparat desa, kepala desa, dan masyarakat setempat, untuk melakukan penyisiran di sepanjang sungai. Dari hasil pemeriksaan, tim menemukan 12 bekantan yang terdampak karhutla.
Agus menjelaskan hasil pemeriksaan memastikan 12 bekantan tersebut mati akibat terbakar.
Bangkai-bangkai satwa endemik Kalimantan itu kemudian dikuburkan dengan disaksikan kepala desa dan masyarakat setempat.
"Dari informasi awal, bekantan yang menjadi korban ada 10 ekor. Namun setelah dilakukan pengecekan lapangan ternyata ada 12 ekor yang terdampak. Tim pun melakukan pemeriksaan dan memastikan bahwa satwa tersebut benar-benar mati terbakar, kemudian dikuburkan bersama dengan disaksikan oleh kepala desa beserta masyarakat," jelasnya.
Karhutla di daerah tersebut melanda lahan seluas kurang lebih sembilan hektare. Ia mengatakan tim juga menjumpai kelompok bekantan lain yang masih hidup di sekitar kawasan tersebut.
"Dijumpai ada 32 bekantan dari kelompok yang sama yang masih hidup. Mereka berada di tempat lain, di sisi berbeda dari lokasi kebakaran," tutur Agus.
Berdasarkan keterangan kepala desa dan hasil peninjauan di lapangan, kata dia, api diduga berasal dari luar areal habitat bekantan yang terbawa angin kencang hingga merembet ke kawasan habitat bekantan pada sore menjelang malam hari.
"Dari keterangan kepala desa, api itu memang bukan berasal dari desa setempat. Api diduga berasal dari tempat lain yang terbawa angin hingga merembet masuk ke area habitat bekantan ini," ucap Agus.
Menurutnya, masyarakat bersama pemerintah desa selama ini telah berupaya menjaga kawasan tersebut. Salah satunya dengan memasang papan-papan peringatan sejak 2016 serta aktif membagikan dokumentasi kegiatan pelestarian lingkungan melalui media sosial.
BKSDA Kalsel menyampaikan keprihatinan atas kematian belasan bekantan tersebut.
Sebagai primata yang dilindungi dan menjadi ikon Kalsel, bekantan dinilai perlu mendapatkan perhatian bersama, terutama dalam upaya perlindungan habitatnya dari ancaman karhutla.
"Kami juga prihatin dan sangat terpukul, apalagi bekantan ini merupakan satwa yang dilindungi dan menjadi ikon Kalimantan Selatan. Kami mengharapkan para pemerhati lingkungan dapat bekerja sama menjaga satwa-satwa yang ada di Kalsel," kata Agus.
Berdasarkan catatan BKSDA Kalsel, populasi bekantan di Kalsel pada 2025 diperkirakan sekitar 3.700 individu. Sekitar sepertiga populasi berada di kawasan konservasi, sedangkan dua pertiganya berada di luar kawasan konservasi, seperti hutan produksi, hutan lindung, dan Areal Penggunaan Lain (APL).
Sebanyak 12 bekantan yang terdampak karhutla di Balimau tersebut berada di kawasan APL yang merupakan tanah milik desa setempat.
Ke depan BKSDA Kalsel berkomitmen untuk terus melakukan pendataan terhadap kawasan APL yang menjadi habitat satwa liar.
Upaya tersebut akan disertai dengan sosialisasi bersama kepala desa, optimalisasi peran pusat penyelamatan satwa melalui layanan call center, serta mendorong penetapan area preservasi baru berbasis resor.
Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat perlindungan habitat satwa liar di luar kawasan konservasi tanpa mengubah status kepemilikan tanah masyarakat.
(antara/kid)

2 hours ago
5

















































