Ligaolahraga.com -
Berita Tenis: Petenis berkebangsaan Jerman, Alexander Zverev telah mencapai puncak baru dengan kemenangannya di French Open musim 2026, tetapi masa lalu terus menghantuinya.
Petenis berusia 29 tahun mengandaskan petenis berkebangsaan Italia, Flavio Cobolli dengan lima set demi mengakhiri penantian 30 musim Jerman akan juara Grand Slam putra. Ia adalah petenis putra pertama dari negaranya yang meraih kemenangan di French Open sejak Henner Henkel pada musim 1937, yang meninggal enam tahun kemudian selama Pertempuran Stalingrad.
Hingga French Open musim ini, petenis peringkat 3 dunia dianggap sebagai salah satu petenis paling berbakat yang belum pernah memenangkan gelar Grand Slam setelah menjadi runner up dalam tiga final Grand Slam sebelumnya.
Juara Olimpiade di Tokyo tahun 2021 memiliki banyak hal untuk dirayakan, tetapi di samping kegembiraan tersebut, muncul pula tuduhan kekerasan dalam rumah tangga yang telah mencoreng kariernya. Meskipun ia terus-menerus membantah melakukan kesalahan apa pun dan belum pernah secara resmi dinyatakan bersalah.
Pada akhir pekan, sebuah wawancara yang dilakukan oleh L’Equipe dihentikan oleh Zverev setelah ia ditanyai tentang masalah tersebut. Associated Press mengutip surat kabar Prancis tersebut yang mengatakan bahwa bintang tenis tersebut menjawab, “Tunggu, pertama-tama, ini bukan jenis wawancara seperti itu. Kedua, anda tahu, telah terbukti bahwa tuduhan itu salah? Saya telah melakukan semua yang bisa saya lakukan dan ketidakbersalahan saya telah terbukti.”
“Saya tidak tahu. Saya pikir kita sebaiknya menghentikan wawancara, itu lebih baik,” tambah Zverevketika L’Equipe bertanya kepadanya tentang rencana untuk beberapa pean mendatang.
Dua mantan pasangan petenis berusia 29 tahun mengaku terlibat dalam semacam perselisihan rumah tangga. Dalam serangkaian wawancara media sejak musim 2020, Olya Sharypova mengaku telah menjadi korban kekerasan beberapa kali, termasuk selama turnamen di tempat mereka berdua menginap.
Namun, Sharypova tidak pernah melaporkan insiden tersebut kepada polisi. Lebih lanjut, ATP meluncurkan investigasi independennya sendiri selama 15 bulan dan menyimpulkan bahwa tidak ada cukup bukti untuk mendukung klaim yang diajukan terhadap petenis berkebangsaan Jerman.
Proses tersebut diawasi oleh Lake Forest Group dan mencakup wawancara terhadap lebih dari dua lusin orang serta peninjauan pesan teks, file audio, dan foto yang diserahkan oleh Sharypova dan petenis berkebangsaan Jerman.
Setelah itu, Brenda Patea, ibu dari anak petenis berkebangsaan Jerman, menuduhnya melakukan kekerasan fisik terhadapnya selama pertengkaran. Awalnya, perintah hukuman dikeluarkan terhadap sang petenis karena menyebabkan cedera fisik, yang ia bantah.
Perintah hukuman dikeluarkan ketika jaksa penuntut percaya ada cukup bukti untuk mendukung klaim tersebut. Petenis peringkat 3 dunia kemudian menggugat denda sebesar 450.000 euro di pengadilan umum. Tetapi, persidangan dihentikan setelah tercapai kesepakatan di luar pengadilan, di mana petenis berkebangsaan Jerman membayar 200.000 euro, 150.000 euro di antaranya masuk ke kas negara Jerman dan sisanya ke organisasi nirlaba.
Pengadilan menyimpulkan bahwa keputusan tersebut bukanlah "putusan tentang bersalah atau tidak bersalah." Ia secara hukum dianggap tidak bersalah dalam kasus tersebut, yang tidak akan lagi diadili oleh pengadilan.
Sembari berjuang untuk menepis pertanyaan tentang masa lalunya, Zverev akan memasuki rangkaian turnamen grass-court dengan penuh percaya diri dan berharap dapat memanfaatkan penampilannya di French Open. Ia belum pernah memenangkan gelar turnamen grass-court, dengan pencapaian terbaiknya di Wimbledon adalah lolos ke babak keempat sebanyak tiga kali.
Artikel Tag: french open, alexander zverev, flavio cobolli
Published by Ligaolahraga.com at https://www.ligaolahraga.com/tenis/alexander-zverev-hentikan-wawancara-usai-pertanyaan-tentang-kekerasaan

4 hours ago
3

















































