2 Peserta Wafat, DPR Minta Miiterisasi Pelatihan Kopdes Dievaluasi

5 hours ago 6

Jakarta, CNN Indonesia --

Anggota Komisi I DPR RI TB Hasanuddin meminta Kementerian Pertahanan dan TNI mengevaluasi Latihan Dasar Militer (Latsarmil) Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih dan Kampung Nelayan Merah Putih usai 2 peserta meninggal dunia.

TB mengaku sudah mendapat informasi dua peserta meninggal dunia karena sakit dan heat stroke.

"Satu karena sakit, yang kedua karena heat stroke ya. Jadi kalau menurut hemat saya harus dievaluasi," kata TB Hasanuddin di kompleks parlemen, Jakarta, Rabu (24/6).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia mengatakan evaluasi harus mencakup pemeriksaan kesehatan bagi calon peserta yang ingin mengikuti latihan itu.

Menurutnya, calon pengelola koperasi desa dan kampung nelayan boleh-boleh saja mendapat materi soal dasar militer.

Namun, ia mengingatkan materi soal pengelolaan koperasi lebih penting.

"Mungkin materinya sajalah, ya. Materinya saja. Kemiliteran dalam konteks seperti militer, latihan menembak, kemudian baris-berbaris, panas-panasan, ya dikurangi. Lebih baik diberikan ya pelatihan tentang manajemen sebuah koperasi," katanya.

Sebelumnya Kementerian Pertahanan (Kemhan) mengonfirmasi soal kabar duka di tengah pelatihan calon pengelola koperasi desa dan kampung nelayan.

Kemenhan pun menyampaikan duka cita mendalam atas wafatnya dua peserta Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) dan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) Tahun 2026.

Dua korban itu wafat terpisah saat mengikuti Latihan Dasar Militer (Latsarmil) di satuan pendidikan TNI.

Peserta atas nama Anisa Muyassaroh yang mengikuti pendidikan di Satdik Dodikjur Rindam VI/Mulawarman Balikpapan mengalami gangguan kesehatan pada 18 Juni. Kemenhan menyatakan korban telah mendapatkan penanganan medis di fasilitas kesehatan satuan sebelum dirujuk ke rumah sakit.

Berdasarkan keterangan medis kematian korban Anisa itu karena terpapar cuaca panas berlebih atau heat stroke.

"Berdasarkan keterangan medis, yang bersangkutan dinyatakan meninggal dunia akibat heat stroke," kata Karo Infohan Setjen Kementerian Pertahanan Brigjen Rico Ricardo Sirait dalam keterangan tertulis, Selasa (23/6).

Sementara itu, peserta bernama Yonanda Muhammad Taufiq yang mengikuti pendidikan di Satdik Puslatpur Kodiklatad Baturaja mengalami penurunan kondisi kesehatan pada 17 Juni lalu. Kemenhan juga menyatakan korban dan telah mendapatkan penanganan oleh tenaga kesehatan satuan sebelum dirujuk ke rumah sakit.

Rico mengatakan berdasar keterangan medis, yang bersangkutan dinyatakan meninggal dunia akibat henti jantung atau cardiac arrest.

Kemenhan menegaskan sebelum pelatihan di fasilitas militer masing-masing dilakukan, para peserta telah diseleksi dan menjalani pemeriksaan kesehatan.

"Perlu disampaikan bahwa sebelum mengikuti program, kedua peserta telah melalui tahapan seleksi sesuai ketentuan yang berlaku, termasuk pemeriksaan kesehatan, dan dinyatakan memenuhi persyaratan untuk mengikuti rangkaian pendidikan," kata Rico.

(yoa/kid)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Sports | | | |